Para petani anggota SPP bisa memiliki lahan bukan proses yang mudah. Mereka harus berhadapan dengan aparat polisi, satpam PTPN, dan ancaman preman. Sedikitnya 1000 anggota SPP dan aktivis pendamping pernah ditangkap, ditahan atau dipenjara bahkan ada yang divonis selama 4 tahun terkait konflik pertanahan.
Ironi terbesar dari kisah perjuangan para petani untuk mengolah lahan adalah, alih-alih mendapat dukungan atau bantuan fasilitas pemerintah, sebagaimana mestinya, mereka justru sering diintimidasi, dihalangi, dan dihambat. Saat sebagian dari mereka sukses, itu murni karena hasil kegigihan berani melawan kekuasaan dan kerja keras.
Sembilan puluh dua ribu petani anggota SPP kini memiliki lahan, dan memiliki masa depan untuk bisa lepas dari kemiskinan struktural. Kemiskinan akibat ketidakmampuan pemerintah menjalankan amanatnya, dan merajalelanya praktek korupsi, kolusi, nepotisme.
Kisah sukses Haji Deden Solahudin, di awal tulisan ini — dari pedagang keliling jualan golok kemudian bergabung dengan SPP dan menjadi petani makmur, adalah testimoni dan bukti: rakyat bisa makmur sejahtera jika negara tak menghalangi. Kisah jerja keras Haji Deden sangat kontras dengan perilaku politikus, makeoar politik, atau relawan yang berpolitik dengan lobi-lobi atau cuma “mencangkul” lahan di media sosial. Mereka yang sekejap mendadak kaya karena menjadi komisaris di BUMN atau mendapat jabatan politik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
