“Kota Soe yang kita kenal sekarang tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui proses sejarah yang panjang melalui dinamika pemerintahan, perjuangan masyarakat, perkembangan perdagangan, pendidikan, kehidupan sosial-keagamaan, serta interaksi antar komunitas. Kita boleh menikmati kemajuan hari ini, tapi jangan sampai kita kehilangan ingatan tentang proses panjang yang memungkinkan kita berdiri di tempat ini.”
Di akhir sambutan, Bupati Eduard Markus Lioe menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara, Pemerintah Kecamatan dan Desa se-Wilayah Mollo, para tokoh adat, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan bernilai sejarah ini. Dengan berdoa memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, beliau secara resmi melepaskan rombongan Napak Tilas Sejarah Perpindahan Ibu Kota Onderafdeling Zuid Midden Timor dari desa O’besi ke Kota Soe.
Usai upacara pelepasan, Bupati Eduard Markus Lioe bersama seluruh rombongan berjalan kaki menuju Sumur Tua peninggalan kolonial Belanda yang terletak di samping Gereja Ebenhezer Kapan, salah satu saksi bisu kehidupan masyarakat pada masa pemerintahan kolonial di wilayah O’besi kecamatan Mollo Utara. Setelah merenungkan dan menghormati jejak sejarah di lokasi tersebut, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan kaki menuju Kota Soe, mengikuti jalur yang dahulu menjadi rute perpindahan pusat pemerintahan pada awal abad ke-20.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.