Tahun 1597 giliran Raja Mena dipermandikan. Tanggal 18 April 1613 hampir semua Misionaris dari Solor mengunjungi misi Timor yang berpusat di Mena. Ketika itu Raja Kupang, Ampono menyatakan keinginannya untuk dipermandikan.
Dikatakan bahwa Nisnoni Sonbai (musuh raja Ampono) mencari hubungan dan kerja sama dengan orang Belanda di Solor yang beragama Protestan Calvanistis untuk melawan raja-raja yang pro Portugis. Tahun 1624/25, utusan-utusan dari Sawu-Pequeno (Roti) pergi ke Larantuka memohon seorang misionaris untuk pulau Roti.
Antara tahun 1625 sampai tahun 1663, VOC semakin intensif melakukan perlawanan ke daerah kedudukan Portugis di pulau Solor. Dan ketika Solor jatuh ke tangan Belanda, pusat misi Portugis berpindah ke Larantuka.
Tujuh Misionaris Dominikan yang ada di Solor bersama 30 orang Portugis dan Tuppasi, diikuti 1000 orang asli yang beragama Katolik pindah dari Solor ke pusat baru Larantuka.
Tahun 1629 Frei Cristavao Rangel OP datang dari Larantuka ke “Silabao” (Silawan) dan Januli (Atapupu), mempermandikan Raja dengan banyak rakyatnya dan mendirikan sebuah gereja di situ. Karena orang-orang Makasar yang ada di situ coba meracuni dia, maka ia terpaksa pulang ke Larantuka dan dapat diganti oleh Frei Bento Serao OP.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
