Pemetaan Partisipatif Sebagai Langkah Strategis Pengelolaan Risiko dan Potensi Wisata

IMG 20250716 WA0077
Kegiatan FGD yang diselenggarakan Universitas Brawijaya di aula Setda Nagekeo, Photo dok: FlobamoraNews (Sevrin)

“Titik-titik objek wisata juga perlu digambar karena hubungannya dengan kesiapsiagaan”, ujar salah satu peserta dari aparat Desa Ululoga.

Destinasi penting dipetakan dalam kegiatan ini, seperti wisata pantai seperti Enagera, Batu Kembi, dan Ria Nangaroro menjadi primadona. Di utara, terdapat Pulau Kindhe, Pantai Kaburea, dermaga wisata Kota Jogo, serta wisata bahari dan air panas di Nangadhero dan Marapokot. Sementara itu, kawasan perbukitan dan pegunungan di sekitar Gunung Ebulobo menyimpan potensi wisata alam dan budaya seperti situs prasejarah Lia Ula, spot paralayang Manuponggo, serta Kampung Wisata Pajoreja.

Selain wisata alam, pemetaan juga memuat destinasi budaya tradisional seperti gelanggang Tinju Adat (Etu) di Mauponggo, hingga Nunungongo dan Towak di wilayah utara, yang menjadi warisan budaya tak benda. Situs purbakala seperti Gajah Purba di Olabula dan tempat keagamaan seperti Bukit Rohani Lena juga turut ditandai.

“Kegiatan ini menegaskan bahwa mitigasi bencana dan pengembangan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor agar alam tetap lestari dan budaya tetap hidup,” ujar perwakilan peserta dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nagekeo.



Exit mobile version