Ivan mengaku telah mengajukan permohonan sejak awal Februari 2026, namun hingga kini belum menerima kuota. Sementara itu, sejumlah pengusaha lain yang mengajukan permohonan belakangan justru sudah mendapat alokasi. “Saya sudah ajukan sejak Februari awal, tapi sampai sekarang belum dapat. Sementara yang masuk dari belakang malah sudah dapat,” ungkapnya.
Upaya konfirmasi yang dilakukan ke pimpinan dinas juga tidak memberikan jawaban jelas. “Saya sempat tanya ke kadis, tapi malah diarahkan ke pejabat di atas. Saya tidak mau, karena saya tahu yang urus ini Dinas Peternakan,” katanya. Dalam nada sindiran tajam, Ivan menyebut dirinya “lewat jalur langit” ketika ditanya rekan pengusaha terkait jalur pengurusan yang ditempuh – sebuah pernyataan yang kini ramai disorot sebagai simbol kekecewaan terhadap sistem yang dianggap tidak transparan.
Keluhan senada disampaikan Fransina Nenobais, yang menegaskan telah mengajukan permohonan lebih awal bahkan sebelum penerapan SOP baru, namun tetap tidak memperoleh kuota. “Saya ajukan sejak awal Februari 2026, sebelum SOP baru. Tapi sampai sekarang tidak dapat,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
