Potensi Ayam KUB Sebagai Terobosan Genetik Dalam Mendukung Ketehanan Pangan di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor

Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260530 WA0000

Dari sisi ekonomi, adopsi ayam KUB oleh peternak di NTT berpotensi meningkatkan pendapatan secara signifikan karena siklus panen yang lebih pendek dan frekuensi panen telur yang lebih tinggi. Marno mengilustrasikan bahwa dengan ayam kampung biasa, peternak mungkin hanya panen 2-3 kali setahun, namun dengan ayam KUB yang tidak lama mengeram, frekuensi panen telur dapat meningkat hingga 7 kali setahun . Strategi pengembangan yang direkomendasikan oleh akademisi dan praktisi seperti Marno adalah pendekatan klaster berbasis kelompok tani, di mana satu kelompok difokuskan pada pembibitan (breeding farm) dan kelompok lain pada pembesaran (grow-out farm). Selain itu, pemanfaatan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal seperti lamtoro, sorgum, dan fermentasi jagung perlu terus diuji untuk menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban utama peternak di wilayah dengan iklim kering seperti NTT.

Kesimpulannya, ayam KUB merupakan inovasi genetik yang layak untuk dimasukkan ke NTT dan Pulau Timor sebagai upaya percepatan peningkatan produksi daging dan telur ayam kampung. Asal usul ilmiahnya yang jelas melalui seleksi enam generasi oleh tim ahli Balitbangtan memberikan jaminan kualitas genetik, sementara manajemen pemeliharaannya yang telah terstandarisasi memungkinkan adopsi teknologi oleh peternak lokal. Namun, pandangan Marno sebagai representasi akademisi dan pelaku usaha muda NTT memberikan catatan penting bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga pada sistem penyuluhan yang intensif, akses permodalan, serta ketersediaan pakan berkontribusi. Oleh karena itu, pemerintah daerah NTT perlu menjalin kerjasama dengan Balitbangtan dan universitas seperti UNDANA untuk membangun unit pembibitan lokal serta demonstrasi plot (demplot) di Pulau Timor, sehingga ayam KUB tidak hanya menjadi komoditas impor dari Jawa, tetapi benar-benar menjadi ternak lokal yang memberdayakan masyarakat.



Exit mobile version