Opini  

Rp 200 Triliun di Himbara: Antara Momentum Pertumbuhan dan Risiko Salah Arah

Reporter : Bung R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan tetap menyerap banyak tenaga kerja (sekitar 28,2% per Agustus 2024 (BPS) tenaga kerja nasional) dan menyumbang porsi material pada PDB (≈12,5% untuk pertanian). Ironisnya, serapan kredit untuk subsektor produktif ini relatif rendah dibanding potensinya. Kondisi ini menjelaskan mengapa bank, termasuk Himbara, mengeluh sulit menemukan debitur produktif yang “bankable” dalam jumlah besar untuk menyerap alokasi baru sebesar Rp200 triliun.

2. Risiko kebijakan jika implementasi serampangan

Menempatkan dana besar tanpa mekanisme penyaluran terarah berisiko menjadi parkir likuiditas yang hanya memperbaiki rasio likuiditas bank sementara efek ke lapangan minim. Risiko lain:

1. Distorsi alokasi kredit: Bank dapat menempatkan kredit pada sektor konsumtif atau instrumen pasar modal demi menjaga kualitas aset jangka pendek, bukan kepada usaha produktif yang membutuhkan waktu inkubasi.

2. Moral hazard dan seleksi buruk: Tanpa penjaminan/rules yang jelas, debitur marginal yang tidak produktif bisa memanfaatkan kemudahan pembiayaan.



Exit mobile version