“Kesatuan dimulai dari hati, itulah tunggal Hati. Dari situlah akan muncul upaya-upaya tindakan menyatukan, sehingga segala perkara dapat diselesaikan dengan hati. Itulah nilai yang diandalkan dalam THS-THM”, ujarnya.
Menurutnya, perjalanan THS-THM di Keuskupan Atambua memiliki sejarah yang cukup panjang. Ada banyak kendala, namun karya Allah bisa menyelesaikan semuanya.
THS-THM tumbuh dalam perjalanan waktu. Karena itu, semua permasalahan yang dialami oleh THS-THM bukanlah sebuah hal yang final, tapi semua adalah sebuah proses yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Karena itu, kita hanya dapat percaya bahwa Tuhan akan membuat semuanya indah pada waktunya.
“Kalau ada kesulitan dan persoalan, maka kita harus terus menjalaninya dengan menunjukan apa yang baik, terlebih pada gereja”, ujarnya.
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Dewan Pendiri, Koordinator Nasional THS-THM, Maria Selastiningsih, SE, Akt, CFT menuturkan bahwa pola kepemimpinan yang ada di THS-THM adalah memberi teladan dan menjadi pelayan. Bila THS-THM bisa menjadi besar di Keuskupan Atambua, itu hanya semata karena karya Allah, bukan karena kerja manusia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
