Sejarah Hadirnya THS-THM di Keuskupan Atambua

20190912 114640

Halaman samping rumah pun tak lagi mampu menampung jumlah anggota yang kian bertambah dari hari ke hari. Dua minggu kemudian, Fr. Leo meminta ijin untuk membuka latihan di Gedung Imacullata (sekarang menjadi Asrama Avila). Kian hari, kian bertamba banyak orang yang bergabung. 200 lebih orang pun mulai bergabung, hingga peserta latihan harus berdiri sampai luar gedung.

Setelah tiga bulan berlalu, tepatnya pada Bulan Mei 1993, akhirnya para frater diminta untuk kembali ke Seminari Tinggi Ledolero. Fr. Leo meminta kepada para anggota yang pertama kali mengikuti latihan untuk kembali mendampingi anggota lainnya.

Foto bersama Pengurus THS-THM Keuskupan Atambua bersama Kornas

Kembalinya para frater ke Seminari Tinggi ternyata membawa dampak pada surutnya semangat anggota untuk beratih. Banyak anggota yang mulai hilang secara perlahan.

Walau demikian, semangat dari sebagian kecil anggota untuk mengembangankan THS-THM terus membara, tak pantang menyerah. Hal ini karena mereka tetap berpegang pada apa yang telah diajarkan oleh Fr. Leo. “Setiap anggota THS harus bisa menjadi pemimpin bagi saudara-saudaranya”.



Exit mobile version