Sesilia Eno, bibi dari Adelia, menceritakan bagaimana kondisi keponakannya terus melemah tanpa adanya kepastian tindakan medis. Menurutnya, ada tiga bidan yang bertugas piket di puskesmas. Mereka sempat memeriksa pasien dan menyatakan bahwa air ketuban belum pecah. Namun, ketika keluarga meminta rujukan, alasan yang diberikan selalu sama, yaitu menunggu instruksi dokter dan Kepala Puskesmas.
“Anak Adelia ini napasnya sudah sesak, mukanya sudah pucat semua. Saya tanya mereka, ‘Bagaimana? Konsultasi dengan dokter supaya cepat dirujuk.’ Tapi bidan bilang tunggu dokter. Kami orang bodoh cuma bisa meminta saja. Anak kami ini sudah setengah mati, tapi mereka bilang tahan-tahan dulu. Baru Minggu sore pasien dibawa ke Betun,” tutur Sesilia dengan nada lirih. Ia juga menambahkan bahwa pengurusan surat rujukan berjalan sangat lambat.
Setibanya di RSPP Betun, kondisi Adelia semakin memburuk. Ia langsung dibersihkan sebelum dibawa ke ruang operasi. “Kami pikir anaknya selamat, karena kami diberitahu bahwa ari-ari keluar duluan,” ujar Sesilia. Namun, tak lama kemudian, dokter memanggil orang tua Adelia dan menyampaikan kabar duka bahwa bayi mereka tidak dapat diselamatkan. Setelah operasi, Adelia dipindahkan ke ruang inap, dan sekitar pukul 02.00 WITA, ia dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya semakin kritis.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
