“Saya sudah sering menyaksikan acara kolosal di berbagai daerah, tetapi semuanya berlangsung di panggung buatan manusia. Hari ini saya berdiri di panggung yang diciptakan langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Hamparan padang rumput yang indah, perbukitan yang memukau, dengan Gunung Lakaan menjulang di kejauhan. Ini adalah anugerah Tuhan bagi masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia,” ujar Tito Karnavian.
Menurutnya, perpaduan panorama alam yang eksotis dengan kekayaan budaya lokal menjadikan Belu sebagai salah satu ikon kebanggaan Indonesia. Ia menilai tenun ikat dan seni budaya Belu memiliki nilai artistik tinggi yang mampu bersaing di tingkat internasional karena merupakan warisan budaya yang terus dijaga dan disempurnakan secara turun-temurun.
Festival tahun ini mengusung tema “Dance for Friendship”, yang mengandung makna persatuan, persaudaraan, dan perdamaian. Ribuan penari dari empat suku di Kabupaten Belu menampilkan harmoni gerakan sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
