NTT, Manggarai, Jumat 04 September 2026,
Bumi tak lagi diam
retakan membelah tanah
seperti luka yang tak kunjung sembuh.
Bangunan berguncang, dinding runtuh,
dan denting puing menelan harapan
yang baru saja dibangun dengan susah payah.
Langit kelabu menjadi saksi,
jerit dan tangis pecah di antara reruntuhan.
Kejamnya gempa:
memberi tanah untuk berpijak,
lalu mengguncangnya dalam sekejap mata.
Atap yang dahulu menaungi keluarga
kini menjadi tumpukan batu.
Dapur yang biasanya mengepulkan asap
kini sunyi dan dingin.
Piring-piring terdiam,
nasi tak lagi terhidang,
sementara perut terus memanggil
di tengah malam yang panjang.
Di sela-sela puing,
tangan-tangan kurus terulur—
bukan meminta kemewahan,
bukan mengejar pujian,
bukan pula mengharap belas kasihan berlebihan.
Mereka hanya membutuhkan
sekarung beras,
sedikit minyak,
gula dan garam,
air untuk diminum,
serta makanan sederhana
agar perut yang melilit
sejak kemarin dapat kembali terisi.
Gempa mungkin telah berhenti,
tetapi penderitaan belum berakhir.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










