Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia merayakan Hari Anak Nasional menjadi momen yang mengingatkan kita akan janji bersama untuk menjaga hak dan kesejahteraan anak-anak, sang penerus bangsa.
Tahun 2025 ini terasa berbeda bagi warga Timor Tengah Selatan (TTS), karena perayaan Hari Anak Nasional ke-41 di tingkat kabupaten TTS tidak hanya merupakan seremoni biasa melainkan juga titik awal sebuah terobosan teknologi bernama SIPETIK PPA, sebuah aplikasi cerdas yang memudahkan pelaporan tindak kekerasan pada perempuan dan anak.
Mengapa aplikasi ini penting dan mendesak? Karena data tidak bisa berdusta tentang angka kekerasan di TTS yang tergolong tinggi menjadi alarm yang sulit untuk diabaikan.
Bupati TTS Eduard Markus Lioe mengungkapkan fakta mengejutkan karena sekitar 60% kasus kekerasan melibatkan usia dini, dan 43% korban berada di rentang usia PAUD, SD, hingga SMP. Sebuah gambaran pahit yang seharusnya membangunkan hati nurani kita semua.
Kekerasan yang menimpa anak dan perempuan bukan hanya luka fisik, melainkan juga serpihan trauma yang membekas dalam jiwa. Melihat kenyataan ini, Bupati TTS Eduard Markus Lioe dengan tegas mengatakan bahwa Hari Anak Nasional bukan semata-mata adalah ajang serimonial rutin. “Ini adalah kerja bersama, untuk membangun daerah kita,” ungkapnya dengan penuh harapan dan tanggung jawab. Sebuah panggilan untuk mengubah paradigma dari pasif menyaksikan, menjadi aktif berperan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
