Hingga akhir 2024, 24,68% penduduk TTS hidup dalam kemiskinan, sementara sekitar 13% termasuk dalam kategori kemiskinan ekstrem. Di sisi lain, angka stunting masih 23% pada 2023, jauh di atas target nasional 14%. Data ini menunjukkan bahwa meski orang Timor dikenal teguh dan bertahan dalam kekeringan, kita masih berhadapan dengan kesenjangan gizi, pendidikan, dan kesehatan yang serius.
Namun di balik angka-angka tersebut, masih ada nilai yang bertahan. Kolektivitas (kita lebih penting daripada saya) masih hidup dalam gotong royong dan pesta adat. Rasa hormat kepada leluhur masih nyata, meski dalam bentuk sederhana. Orang Timor tetap dikenal teguh, mampu bertahan di tanah yang kering dan sulit.
Artinya, TTS belum kehilangan jati diri. Kita justru sedang diuji. Ujian terbesar kita adalah: bagaimana menjadi modern tanpa tercerabut, bagaimana berpendidikan tinggi tanpa kehilangan akar, bagaimana membangun ekonomi tanpa merusak harmoni sosial dan ekologis.
Jati diri orang Timor bukan sekadar tenun atau rumah adat. Ia adalah nilai hidup yang diwariskan: sabar, teguh, kolektif, dan setia pada tanah serta leluhur. Jika nilai-nilai ini bisa kita jaga dalam pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya, maka TTS bisa melahirkan identitas baru: Timor yang modern, tapi tetap Timor.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
