“Itu tidak benar. Jalan itu juga rusak karena faktor alam, curah hujan tinggi dan mengakibatkan longsor. Lokasinya jauh dari tempat penambangan batu warna, Kakak. Setiap kali jalan rusak, itu saya yang perbaiki. Mereka datang saat jalan sudah bagus. Saya ini susah untuk kerja jalan bersama masyarakat,” ungkapnya.
Saul juga mengaku telah berupaya membantu perbaikan jalan bersama masyarakat ketika kondisi jalan mengalami kerusakan. Namun, pernyataan tersebut merupakan keterangannya yang masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Saul berharap semua pihak mengedepankan hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan dalam menyikapi persoalan batu warna di Pantai Oenikan.
Menurutnya, perbedaan pandangan mengenai aktivitas tersebut hendaknya tidak sampai merugikan masyarakat yang selama ini mengandalkan hasil pemilahan batu warna untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak.
“Saya berharap semua pihak mengedepankan hati nurani dan nilai kemanusiaan. Jangan sampai berbeda pandangan justru merugikan warga yang selama ini menggantungkan hidupnya pada batu warna,” pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












