“Harus bisa jadi pelajaran, evaluasi total soal kajian lingkungan, kita memang tidak bisa menahan bencana akan tetapi dengan melestarikan lingkungan menjaga alam meminimalisir terjadi bencana seperti ini” ujar salah satu warga Maupunggo.
Bambu dipilih bukan tanpa alasan. Akar serabutnya yang rapat mampu mencengkeram tanah kuat-kuat, menahan longsor, dan mencegah erosi tebing. Kemampuannya menyerap air membuat hujan deras tidak langsung berubah menjadi limpasan yang menghantam pemukiman. Justru, air disimpan dalam tanah lalu dilepaskan perlahan, sehingga sungai tetap mengalir stabil.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bambu dapat menahan laju erosi hingga lebih dari 80% dalam waktu 5 tahun.
“Berdasarkan hasil penelitian setelah penanaman bambu selama 5 tahun, erosi yang semula 4.235 ton per km persegi berkurang sampai 436 ton per km persegi,” ucap peneliti bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Elizabeth A Widjaja.
Dijelaskan Elisabeth, bambu akan bermanfaat jika ditanam di bantaran sungai sebagai penahan erosi. Hal itu dapat memecahkan masalah pada daerah aliran su-ngai (DAS) kritis yang berada di Indonesia. Erosi diketahui menyebabkan pendangkalan dan merusak kemampuan sungai dalam menyerap air yang berdampak pada terjadinya banjir bandang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












