Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, pengeluaran ternak sapi dari TTS mencapai 42.250 ekor, namun kuota pengeluaran menunjukkan tren penurunan berturut-turut. “Fakta empiris menunjukkan bahwa populasi ternak sapi terbesar tidak berdampak pada peningkatan pendapatan petani/peternak maupun pendapatan asli daerah,” jelasnya.
Asosiasi juga menyoroti minimnya peran pengusaha lokal dalam pengelolaan dan perdagangan sapi keluar daerah. “Pengusaha lokal bahkan hanya menjadi penonton ketika potensi besar ini dibawa keluar daerah,” tegas Mel Teftae. Jika kondisi ini terus berlanjut, khawatir akan muncul praktik monopoli dan berpotensi mengancam keberlangsungan populasi ternak di masa depan.
HP2T menyampaikan sejumlah aspirasi, antara lain:
– Mendukung Komisi II melakukan uji petik lapangan terkait kemitraan kelompok tani dalam proses pengeluaran sapi.
– Meminta DPRD mendesak Pemerintah Daerah menghentikan sementara pengeluaran sapi keluar daerah hingga uji petik dilakukan secara menyeluruh, karena pembagian kuota dinilai tidak prosedural dan kurang transparan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












