Kurikulum pembelajaran fiber optik dapat meliputi berbagai topik, seperti topologi, perhitungan rugi-rugi, teknik penyambungan, peralatan, pengkabelan, IP Address, dan dasar jaringan komputer. Dari hasil pelatihan tersebut, guru-guru dapat mengelaborasi kurikulum fiber optik dari kementerian juga kurikulum yang siap menghadapi dunia kerja. Di sinilah mindset metodelogi mengajar guru-guru kata Andika sedikit berubah yang mana sebelumnya hanya mengandalkan kurikulum pemerintah kini lebih fleksibel menggabungkan kurikulum kementerian dan kurikulum hasil pelatihan.
Dia meyebut, kelemahan kurikulum Viber optik selama ini yakni kurangnya bahan pembelajaran yang relevan dengan perusahaan sebagai hanya ada satu bab yang membahas kerja-kerja perusahaan. Padahal di dunia industri permintaanya tenaga kerja yang siap pakai. “Dari hasil pelatihan kemarin bersama perusahaan-perusahaan dan TBIG kita buatkan kurikulum khusus yang diterapkan di sekolah kami” tandasnya.
Dampak positif dari implementasi CSR TBIG juga dirasakan siswa SMK yang pernah mengikuti program pelatihan diantaranya Ahmad Irfan Naufal dan Agung Budi juga Fahri dari SMK Setya Dharma Palembang. Fahri mengaku hasil pelatih tersebut saat ini dia sudah bekerja sebagai karyawan di PT Cipta Jaya Sejahtera.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












