Dalam penanganan semen beku, Petrus mengingatkan bahwa kontainer nitrogen cair bersuhu -196°C bukan sekadar termos, melainkan rumah bagi kehidupan spermatozoa. Volume nitrogen wajib dicek setiap minggu menggunakan penggaris plastik hitam atau kayu; jika tidak ada bekas putih nitrogen pada penggaris, kontainer dalam bahaya. Pengambilan straw tidak boleh melebihi tinggi leher kontainer dan harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Ia juga mengenalkan kode warna straw berdasarkan bangsa sapi, seperti sapi Bali berwarna merah, Ongole biru muda, FH abu-abu, Brahman biru tua, Simmental bening, Limousin pink, Madura hijau muda, Brangus hijau tua, dan Angus oranye.
Sesi paling krusial adalah thawing atau pencairan semen beku. Petrus menyebut thawing sebagai momen hidup atau mati bagi spermatozoa. Straw harus diangkat dari kontainer nitrogen dengan cepat, lalu langsung dicelupkan ke air hangat bersuhu 37–38°C selama 30 detik. Alternatif lain adalah merendam straw dalam air hangat 37,5°C selama 25-30 detik, atau menggunakan air sumur pada suhu 25–30°C selama kurang dari satu menit. “Jangan pernah menunda. Setelah thawing, hitungannya bukan lagi menit, tapi detik. Inseminasi harus dilakukan maksimal dua menit setelah straw diangkat dari air,” tegasnya. Ia memperingatkan, straw beku setelah thawing tidak boleh dikembalikan ke dalam kontainer karena kualitas akan menurun dan mengalami kematian sperma.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






