Untuk teknik pelaksanaan, Petrus memaparkan metode rektovaginal. Sapi dimasukkan ke kandang jepit, tangan yang memakai gloves dibasahi dan dibersihkan, lalu dimasukkan ke dalam rektum untuk mencari letak serviks. Setelah serviks diraba, ujung insemination gun dimasukkan melalui vulva dengan hati-hati sampai masuk ke serviks, lalu diarahkan sampai corpus uteri. Semen dideposisikan pada cornua uteri atau posisi keempat karena menghasilkan angka konsepsi tertinggi. “Konsentrasi kerja ada pada tangan yang berada dalam rektum sapi, bukan pada tangan yang memegang gun IB,” jelasnya. Ia menambahkan, teknik ini membutuhkan keterampilan memanipulasi serviks, baik dengan membawa ujung gun menyentuh mulut serviks maupun membawa serviks ke arah ujung gun.
Petrus merangkum enam faktor penentu keberhasilan IB: kualitas semen beku, ketepatan deteksi birahi, waktu pelaksanaan IB, teknik inseminasi, kesehatan reproduksi induk, serta kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan. Menurutnya, penguasaan teknis saja tidak cukup jika tidak didukung pengamatan birahi yang teliti dan kondisi induk yang sehat. Karena itu, pelatihan ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik pengenalan organ di kelas dan laboratorium sebelum peserta terjun ke lapangan. Ia berharap para peserta mampu menerapkan setiap tahapan dengan disiplin agar angka keberhasilan IB di Kabupaten Kupang meningkat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






