Jangan Ulang Pemeriksaan: Itu Penghinaan Kerja DPRD & PMD”, PMKRI Soe Beri Batas Waktu 3×24 Jam: Selesaikan Adil atau Kami Turun Aksi.

Avatar photo
Reporter : Yor Tefa
IMG 20260811 WA0009

SOE, flobamora.news.com — 11 Agustus 2026 — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Soe St. Arnoldus Janssen menyampaikan sikap tegas sekaligus ultimatum kepada Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, terkait penanganan kasus Desa Bijaepunu yang berlarut-larut. PMKRI mengapresiasi keterbukaan Bupati, namun sekaligus memperingatkan dengan keras: jangan mengulang proses yang sudah selesai, dan jangan berlaku tidak adil.

Ketua PMKRI Cabang Soe, Yulius Tamonob, menyampaikan dalam siaran pers resminya Senin (10/8/2026):

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Kami berterima kasih karena Bupati akhirnya angkat bicara dan berjanji menyelesaikan persoalan ini. Ini menjadi harapan baru bagi warga yang sudah lama menanti kedamaian. Setidaknya suara masyarakat mulai didengar, padahal selama ini terabaikan.” Ungkap Yulius.

Namun apresiasi itu langsung diikuti kritik yang tajam. PMKRI mempertanyakan rencana Bupati untuk memeriksa ulang kasus tersebut dari awal.

“Mengapa Bupati harus turun kembali memeriksa ulang, padahal sebelumnya sudah ada pemeriksaan langsung dari Dinas PMD di lokasi Desa Bijaepunu? Bahkan sudah dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat yang melibatkan DPRD, perwakilan masyarakat, dan Dinas PMD, yang telah menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi. Seharusnya hasil kerja keras bersama itu dihargai dan ditindaklanjuti, bukan diabaikan lalu dimulai dari awal lagi. Bukankah ini bukti ketidakseriusan menghormati proses hukum dan aspirasi masyarakat?”

PMKRI juga menyoroti ketimpangan yang sangat mencolok dalam penjatuhan sanksi. Guru PPPK sudah diberhentikan sejak April 2026, sementara Sekretaris Desa masih aktif bekerja tanpa sanksi apa pun.

“Jika Bupati kini berniat menyelesaikan masalah ini dengan adil, mengapa Ibu Guru PPPK lebih dulu diberhentikan? Apakah keputusan itu adil dan berdasarkan bukti lengkap, atau justru bukti adanya standar ganda dalam penanganan kasus ini?” Jelas Yulius Tamonob

Baca Juga :  Amanuban Barat,Flobamora-News.Com || Selasa, 25 November 2025 – SMP Negeri Liman, yang terletak di Kecamatan Amanuban Barat, menjadi saksi bisu perayaan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2025 yang penuh haru dan keakraban. Dengan mengusung tema "Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas," perayaan kali ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum untuk mempererat tali persaudaraan antara guru, siswa, dan seluruh elemen pendidikan di sekolah tersebut. Rangkaian acara dimulai dengan upacara bendera yang khidmat, diikuti dengan pemotongan kue ulang tahun sebagai simbol syukur atas perjalanan panjang PGRI dalam mencerdaskan anak bangsa. Kehadiran perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS semakin menambah semarak acara. Beliau hadir untuk membuka secara resmi pentas seni yang telah dipersiapkan dengan matang oleh siswa-siswi SMP Negeri Liman. Camat Amanuban Barat juga turut hadir memberikan dukungan moral dan apresiasi kepada para guru dan siswa. Pentas seni menjadi puncak perayaan, menampilkan beragam kreativitas dan bakat siswa. Mulai dari pembacaan puisi yang menyentuh hati, pidato yang membangkitkan semangat nasionalisme, tarian daerah yang mempesona, hingga tarian kreasi dan modern dance yang enerjik. Tidak ketinggalan, fashion show dengan busana-busana unik hasil daur ulang juga turut memeriahkan suasana. Pameran hasil karya siswa dari berbagai mata pelajaran menjadi bukti nyata dedikasi dan kerja keras mereka dalam mengembangkan potensi diri. Paduan suara antar kelas dengan lagu-lagu perjuangan dan nasionalisme menjadi penutup yang syahdu, diikuti oleh seluruh siswa-siswi SMP Negeri Liman dengan penuh semangat. Kepala Sekolah SMP Negeri Liman, Marwina I. Banamtuan, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Beliau juga menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda. Sebagai simbol dibukanya pentas seni, Ibu Marwina didampingi oleh ketua komite, perwakilan Camat Amanuban Barat, pengurus PGRI, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta para guru dan siswa, melakukan pelepasan balon ke udara. Momen ini menjadi simbol harapan dan cita-cita luhur untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten TTS melalui kehadiran Camat Amanuban Barat dan Dinas P dan K TTS menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru. Hal ini diharapkan dapat memotivasi para guru untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi siswa-siswinya. Yusni Tauho, siswa kelas tiga SMP Negeri Liman, dengan penuh semangat menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat ulang tahun kepada PGRI dan seluruh guru. "Guru-guru kami adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Berkat bimbingan dan kesabaran mereka, kami bisa meraih mimpi dan cita-cita. Selamat Hari PGRI dan Hari Guru Nasional, semoga guru-guru kami selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus mendidik kami," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Perayaan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional di SMP Negeri Liman tahun ini tidak hanya menjadi ajang pesta dan hiburan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan peran penting guru dalam membangun bangsa. Semangat kebersamaan dan keakraban yang terjalin antara guru dan siswa menjadi modal berharga untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.( marfin)

PMKRI menetapkan batas waktu 3×24 jam dengan tiga tuntutan yang tidak bisa ditawar:

1. Selesaikan persoalan secara adil dan tidak tebang pilih

2. Hormati dan tindaklanjuti hasil RDP yang sudah ada — jangan ulang dari awal

3. Berikan kejelasan nasib Ibu Guru PPPK secara transparan

Jika dalam batas waktu tersebut tidak ada tindakan nyata, PMKRI mengancam akan menggelar aksi besar-besaran di depan Gedung DPRD TTS dan Kantor Pemerintah Daerah.

“Keadilan harus pasti, tidak boleh berputar-putar dan tidak boleh tebang pilih. Hasil kerja yang sudah dilakukan bersama harus dihargai. Jangan sampai janji hanya menjadi kata-kata belaka.” Ucap Yulius Tamonob

Sikap ini ditegaskan bukan untuk menentang pemerintah, melainkan mengawal agar proses berjalan benar, adil, dan berpihak pada kedamaian masyarakat TTS. Kini Bupati Eduard Markus Lioe dihadapkan pada pilihan: menindaklanjuti hasil yang sudah ada dengan adil, atau menghadapi gelombang protes yang lebih besar.