Dinamika Perang Dingin memungkinkan perlawanan baru itu. Uni Soviet, Libya, dan Aljazair memberikan dukungan yang tidak kecil. Perang berlangsung sampai 1991, diakhiri gencatan senjata dan kesepakatan untuk menggelar referandum. Tapi referandum tak mudah — dan kemudian jadi tak mungkin — untuk dilakukan. Referandum membutuhkan pemilih. Sementara daftar pemilih yang dikunci di tahun 1991 sudah tidak relevan lagi.
Polisario pun enggan membuka diri, mereka menolak UNHCR melakukan sensus jumlah warga yang berada di kamp pengungsi Tindouf di Aljazair.
Dalam pembicaraan di Manhaset, New York, tahun 2007 dan 2008, akhirnya dihasilkan dua pilihan: otonomi khusus bagi Sahara Barat yang ditawarkan Kerajaan Maroko, dan kemerdekaan Sahara Barat yang diminta Polisario dan Aljazair.
Saya terlibat tiga kali sebagai petisioner dalam pembicaraan mengenai sengketa ini di Komisi IV PBB, di tahun 2011, 2012, dan 2023.
Di tahun 2011 dan 2012 saya menggarisbawahi bahwa otonomi khusus adalah pilihan yang paling mungkin. Proposal ini adalah buah dari prinsip demokrasi yang diyakini Maroko. Berbeda dengan Polisario yang mempraktikan otoritarianisme di Tindouf.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
