Opini  

Kabar Gembira dari Sahara

Reporter : Teguh S Editor: Redaksi
IMG 20251108 WA0010

Dinamika Perang Dingin memungkinkan perlawanan baru itu. Uni Soviet, Libya, dan Aljazair memberikan dukungan yang tidak kecil. Perang berlangsung sampai 1991, diakhiri gencatan senjata dan kesepakatan untuk menggelar referandum. Tapi referandum tak mudah — dan kemudian jadi tak mungkin — untuk dilakukan. Referandum membutuhkan pemilih. Sementara daftar pemilih yang dikunci di tahun 1991 sudah tidak relevan lagi.

Polisario pun enggan membuka diri, mereka menolak UNHCR melakukan sensus jumlah warga yang berada di kamp pengungsi Tindouf di Aljazair.

Dalam pembicaraan di Manhaset, New York, tahun 2007 dan 2008, akhirnya dihasilkan dua pilihan: otonomi khusus bagi Sahara Barat yang ditawarkan Kerajaan Maroko, dan kemerdekaan Sahara Barat yang diminta Polisario dan Aljazair.

Saya terlibat tiga kali sebagai petisioner dalam pembicaraan mengenai sengketa ini di Komisi IV PBB, di tahun 2011, 2012, dan 2023.

Di tahun 2011 dan 2012 saya menggarisbawahi bahwa otonomi khusus adalah pilihan yang paling mungkin. Proposal ini adalah buah dari prinsip demokrasi yang diyakini Maroko. Berbeda dengan Polisario yang mempraktikan otoritarianisme di Tindouf.

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama Flobamora-News.Com Dengan JMSI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab JMSI.


Exit mobile version