Nama penulis ,Opini :Jacky
Kaperwil NTT Mitrapolisi.com
,Soe,Flobamora-News.Com . Sabtu 30/05/2026. Ada dua foto yang sering muncul tiap kepala daerah dilantik. Foto pertama: dia duduk lesehan di balai desa, catatan di pangkuan, dikelilingi warga. Foto kedua: dia potong pita di proyek miliaran, dikelilingi kontraktor dan spanduk. Dua foto itu sering jadi titik awal yang membedakan arah kepemimpinan: merakyat, atau mengakumulasi untuk diri sendiri.
Kepemimpinan merakyat tidak lahir dari slogan. Cirinya sederhana: hadir sebelum viral. Saat banjir, dia duluan di dapur umum. Saat APBDes dibahas, papan pengumumannya dipajang di 3 titik agar warga bisa tanya. Keputusannya lahir dari musyawarah, bukan titipan. Ukuran keberhasilannya bukan jumlah mobil dinas, tapi angka stunting yang turun dan jalan desa yang tidak rusak tiap musim hujan.
Sebaliknya, kepemimpinan untuk akumulasi diri punya pola berbeda. Akses tertutup. Proyek dibagi ke lingkaran dekat. Tender selesai sebelum pengumuman. Gaya hidup pejabat melonjak jauh di atas gaji resmi, tapi LHKPN tetap “aman” karena aset atas nama orang lain. Warga berubah jadi penonton. Aspirasi masuk, tapi keputusan sudah final di meja lain.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












