“Bahkan pagi harinya bendahara terus dihubungi dan diminta segera datang membawa uang. Nomor rekening juga sempat dikirim agar uang bisa langsung ditransfer,” katanya.
Karena merasa tertekan dan takut dilaporkan ke aparat penegak hukum, lanjut Arman, kepala sekolah kemudian mengumpulkan panitia pembangunan serta para guru untuk membahas persoalan tersebut. Dalam pertemuan itu, disepakati pengumpulan uang Rp15 juta yang kemudian diantar ke rumah Ketua Araksi NTT.
“Dalam video yang kami pegang, saat klien kami tiba di rumah, langsung ditanyakan: ‘Mana uang yang kalian bawa?’ Setelah uang diserahkan, baru disampaikan agar pekerjaan dilanjutkan,” ungkapnya.
Menurut Arman, video penyerahan uang sengaja dibuat oleh kliennya sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggungjawaban karena uang tersebut keluar tanpa kuitansi resmi.
“Klien kami membuat video itu sebagai bukti jika suatu saat ada pemeriksaan dari kementerian atau auditor. Karena uang itu keluar tanpa kuitansi, maka video dijadikan bagian dari bukti pertanggungjawaban,” jelasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












