Lalu di mana rakyat miskin? Di mana mereka yang setiap hari harus berpikir bagaimana mendapatkan makanan untuk keluarganya?
Di mana anak-anak dari keluarga miskin yang bahkan belum tentu memiliki pakaian layak untuk mengikuti perayaan kemerdekaan?
Apakah mereka hanya diperlukan ketika pemerintah membutuhkan suara, membayar pajak atau memenuhi angka partisipasi masyarakat?
Jangan sampai kemerdekaan berubah menjadi panggung pesta para elite, sementara rakyat hanya menjadi penonton di pinggir jalan.
Lebih menyedihkan lagi ketika wakil rakyat ikut tampil dengan pakaian terbaik, berdandan necis dan berkelas, sementara di daerah yang mereka wakili masih banyak masyarakat yang menangis karena kemiskinan.
Mereka adalah wakil rakyat. Seharusnya mereka tidak hanya pandai tampil di depan kamera, tetapi juga mampu melihat wajah rakyat yang berada jauh di balik panggung seremoni.
Rakyat membayar pajak. Rakyat bekerja. Rakyat ikut menopang jalannya pemerintahan. Dari keringat rakyatlah negara memperoleh penerimaan untuk membiayai berbagai program dan kebutuhan pemerintahan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












