Wakil Badan Penyantun Puskesmas Boawae ini melihat, keberpihakan program pembangunan di NTT belum begitu optimal menyasar kaum perempuan. Dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga merupakan salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan. Ketidaksetaraan di dalam alokasi sumberdaya dalam rumah tangga memperlihatkan laki-laki dan perempuan mengalami bentuk kemiskinan yang berbeda
Ketimpangan pembangunan yang berbasis perempuan kata Linda berimbas pada kemiskinan, tingginya angka stunting di NTT, kurang gizi hingga gizi buruk. “Itu terjadi karena kita menempatkan urusan perempuan berada di belakang, padahal kita tau perempuan adalah sumber kehidupan” timpalnya.
Lebih lanjut Linda mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menyepelekan caleg perempuan dalam Pemilu Legislatif 2024 nanti. Karena, pada hakekatnya kaum perempuan dalam urusan pemerataan pembangunan hanya butuh satu hal yakni keberpihakan. “Kalau perempuan berpihak pada perempuan, impian untuk memperoleh perempuan berkualitas sebagai wakil rakyat itu bukan mustahil” pungkasnya. (***)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
