Lima belas Agustus
Engkau membangunkan kami bukan dengan pelukan
melainkan gemuruh merobek senyap
yang tak sanggup lagi menahan tangis
Engkau memporak-porandakan Nuca Lale
menghancurkan apa yang kami bangun dengan sombong
lalu di tengah reruntuhan itu
Engkau mengumpulkan napas kami yang tercerai berai
seolah tak rela satu pun pergi
Setiap hentakan kakimu menggetarkan bumi
bukan untuk membunuh
tapi untuk membangunkan
dari tidur panjang kami yang penuh lupa
dari mimpi yang kami sebut kebahagiaan
Wahai Ibu…
seberapa perihkah hatimu
melihat kami anak-anakmu
lebih mencintai emas daripada tanah yang melahirkan
lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan jalan pulang
Apakah amarahmu ini adalah satu-satunya cara
agar kami akhirnya mendengar?
Sudah lima belas hari
Engkau masih berdiri teguh, tak melemah
menghempas debu ke wajah kami
menunjukkan betapa kecilnya kami
betapa tak berdayanya kami
tanpa kasihmu yang selalu kami lupakan
Ibu…
jika amarahmu adalah harga agar kami sadar
biarlah kami tertunduk di hadapanmu
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
