“Mimpi dan cita-cita itu gratis, mari kita bermimpi tinggi untuk kemajuan pendidikan di TTS,” ujar Prof. Herwina. Beliau mencontohkan keberhasilan program sertifikasi guru yang awalnya menjangkau 1,6 juta guru dan kini hampir tuntas, membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja sama, target besar pun dapat dicapai.
Komitmen ini akan menjadi catatan penting menjelang Muktamar Aisyiyah tahun 2027, bahwa di Soe telah berdiri PKBM yang didukung dan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan. Inilah hakikat pendidikan inklusif — pendidikan untuk semua, tanpa memandang agama maupun latar belakang. “Kami mungkin minoritas, namun ketika bergerak dengan tulus, kehadiran dan manfaatnya terasa nyata di tengah masyarakat. Seperti pendiri kita, Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang bergerak dan berdakwah dengan ketulusan, diam namun benar, dan dampaknya terasa hingga kini,” tambahnya.
Misi utama keberadaan PKBM adalah memutus rantai kemiskinan dan kebodohan. Sinergi dengan LazisMu menjadi sangat penting, di mana dana zakat, infak, dan sedekah dikelola secara terorganisir untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan. Dukungan ini telah memperluas jangkauan PKBM dari hanya sekitar sepuluh lembaga menjadi hampir delapan puluh PKBM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di NTT dan Papua.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


