Puisi | TTS dalam Ingatan Pengawas Pemilu (Puisi-puisi rindu seorang pengawas)

Reporter : Yor Tefa Editor: Redaksi
Screenshot 20250724 064801 WhatsApp 2

Karena rindu ini bukan api,
ia tak menyala dengan nyala,
tapi ia membakar pelan
seperti dupa di atas batu—
hening, namun mengabarkan arah.

6. Kokbaun

Kecamatan itu bukan hanya tempat,
ia adalah diam yang menyimpan sidik jari,
jejak sandal di pasir kantor kecamatan,
aroma kopi yang mengiringi rapat tengah malam.

Aku pernah menunggu matahari
di depan TPS nomor dua,
dengan dada berdebar
karena kertas suara
lebih rapuh dari yang kukira.

Kokbaun—kau kecamatan terluar,
tapi langkahmu panjang
menyusuri lorong-lorong harapan.

7. Pencegahan adalah doa

Aku pernah bicara sebelum semuanya mulai.
Di kampung yang tertidur,
aku mengetuk pintu-pintu sunyi
dan berkata:
“Jangan pilih karena uang,
pilih karena masa depan anakmu.”

Mereka mengangguk,
lalu diam.
Dan dalam diam itu
aku tahu, pencegahan adalah doa
yang tak selalu terkabul
tapi tetap harus diucap.

8. Tak boleh ditambah

Di malam pencoblosan,
aku tak tidur.
Bukan karena takut,
tapi karena aku tahu:
kecurangan berjalan paling cepat
saat semua orang berpaling.



Exit mobile version