Puisi | TTS dalam Ingatan Pengawas Pemilu (Puisi-puisi rindu seorang pengawas)

Reporter : Yor Tefa Editor: Redaksi
Screenshot 20250724 064801 WhatsApp 2

Tanganku mencatat,
hatiku menimbang,
dan mataku menjadi saksi
bahwa keadilan bukan hal besar,
kadang hanya satu angka
yang tak boleh ditambah.

9. Penindakan

Lalu datang saat paling sunyi:
aku harus bicara—tegas.
Aku tunjukkan siapa yang bermain,
siapa yang lupa bahwa suara rakyat
bukan permainan.

Mereka membenciku,
seperti bayang-bayang benci cahaya.
Tapi aku berdiri,
sebab jika tak ada yang menindak,
maka biarlah aku menjadi batu
di tengah sungai deras tipu daya.

10. ada rindu di kokbaun

Kini aku di sini, jauh dari Kokbaun,
tapi setiap berita tentang demokrasi
membawa angin dari Fatu’lotas,
dan suara dari desa Benahe.

Rindu ini tidak meledak,
ia membakar perlahan
seperti bara dalam tanah kering.

Aku ingin kembali,
bukan untuk sekadar hadir,
tapi untuk menjaga lagi
suara yang hampir hilang,
kebenaran yang tak punya penjaga.

Kokbaun,
aku tak pernah pergi sepenuhnya.
Sebagian jiwaku masih berjaga,
di setiap suara yang kau hitung,
di setiap kertas yang kau lipat,
dan di setiap harap
yang kau titipkan pada pemilu berikutnya.



Exit mobile version