Tanganku mencatat,
hatiku menimbang,
dan mataku menjadi saksi
bahwa keadilan bukan hal besar,
kadang hanya satu angka
yang tak boleh ditambah.
9. Penindakan
Lalu datang saat paling sunyi:
aku harus bicara—tegas.
Aku tunjukkan siapa yang bermain,
siapa yang lupa bahwa suara rakyat
bukan permainan.
Mereka membenciku,
seperti bayang-bayang benci cahaya.
Tapi aku berdiri,
sebab jika tak ada yang menindak,
maka biarlah aku menjadi batu
di tengah sungai deras tipu daya.
10. ada rindu di kokbaun
Kini aku di sini, jauh dari Kokbaun,
tapi setiap berita tentang demokrasi
membawa angin dari Fatu’lotas,
dan suara dari desa Benahe.
Rindu ini tidak meledak,
ia membakar perlahan
seperti bara dalam tanah kering.
Aku ingin kembali,
bukan untuk sekadar hadir,
tapi untuk menjaga lagi
suara yang hampir hilang,
kebenaran yang tak punya penjaga.
Kokbaun,
aku tak pernah pergi sepenuhnya.
Sebagian jiwaku masih berjaga,
di setiap suara yang kau hitung,
di setiap kertas yang kau lipat,
dan di setiap harap
yang kau titipkan pada pemilu berikutnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
