Oleh: Laurensius Bagus
Ada ironi besar dalam sistem pendidikan kita: sekolah yang seharusnya menjadi ruang berpikir justru menjelma menjadi ruang menghafal. Di banyak ruang kelas, pelajar berhadapan dengan tumpukan catatan, rumus, dan teori yang harus diingat demi mengejar nilai ujian. Namun, sedikit yang diajak untuk bertanya, menafsir, atau menantang gagasan. Pendidikan yang dibangun dengan semangat mencerdaskan justru kehilangan ruhnya—mematikan rasa ingin tahu yang menjadi dasar dari segala bentuk pengetahuan.
Kita seolah terjebak dalam sistem yang mengukur kecerdasan dari kemampuan mengingat, bukan memahami. Dalam ujian nasional, dalam seleksi masuk perguruan tinggi, hingga dalam rekrutmen kerja, hafalan masih dianggap bukti kemampuan berpikir. Padahal, menghafal hanyalah proses mekanis, sedangkan memahami adalah proses kreatif. Menghafal membuat seseorang tahu apa, tapi memahami membuatnya tahu mengapa dan bagaimana. Dan di situlah letak sejati dari kecerdasan.
Warisan Pemikiran yang Terabaikan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
