Opini  

Sekolah yang Menghafal, Bukan Memahami: Akar Masalah Pendidikan Kita

IMG 20251013 WA0050
Laurensius Bagus

Oleh: Laurensius Bagus

Ada ironi besar dalam sistem pendidikan kita: sekolah yang seharusnya menjadi ruang berpikir justru menjelma menjadi ruang menghafal. Di banyak ruang kelas, pelajar berhadapan dengan tumpukan catatan, rumus, dan teori yang harus diingat demi mengejar nilai ujian. Namun, sedikit yang diajak untuk bertanya, menafsir, atau menantang gagasan. Pendidikan yang dibangun dengan semangat mencerdaskan justru kehilangan ruhnya—mematikan rasa ingin tahu yang menjadi dasar dari segala bentuk pengetahuan.

Kita seolah terjebak dalam sistem yang mengukur kecerdasan dari kemampuan mengingat, bukan memahami. Dalam ujian nasional, dalam seleksi masuk perguruan tinggi, hingga dalam rekrutmen kerja, hafalan masih dianggap bukti kemampuan berpikir. Padahal, menghafal hanyalah proses mekanis, sedangkan memahami adalah proses kreatif. Menghafal membuat seseorang tahu apa, tapi memahami membuatnya tahu mengapa dan bagaimana. Dan di situlah letak sejati dari kecerdasan.

Warisan Pemikiran yang Terabaikan



Exit mobile version