Tetapi, kenaikan harga tersebut akan membuat konsumen AS enggan membeli. Jika barang kita tak laku di AS, maka produksi barang tersebut menurun di Indonesia. Akibatnya, pabrik kita merugi, dan dampak terburuk adalah PHK karyawan. Artinya: jumlah pengangguran di Indonesia bisa bertambah. Bukankah secara geoekonomi: hal ini merugikan Indonesia?
Kedua, Zhang Monan dari China-US Focus menyoroti bahwa kebijakan tarif resiprokal ini menandai pergeseran strategis dalam kebijakan perdagangan AS, dari keterlibatan multilateral, menuju perjanjian bilateral atau regional. Hal ini mencerminkan upaya strategis untuk mendefinisikan ulang perdagangan internasional, dengan tujuan akhir menempatkan AS sebagai arsitek utama paradigma perdagangan global yang baru. https://www.chinausfocus.com/finance-economy/trumps-reciprocal-tariffs-reshape-global-trade?utm_source=chatgpt.com
Artinya, kebijakan Trump itu menandakan bahwa AS mulai mengubah geostrategi dagangnya: ogah main rame-rame (multilateral) lagi, dan lebih milih negosiasi dagang satu persatu (bilateral/regional). Tujuannya? Ya supaya AS bisa mengatur alur permainan dagang, dan bisa jadi bos besar di panggung dagang dunia.
Ketiga, peluang bagi Indonesia untuk memperluas ekspor. Betul bahwa AS adalah salah satu negara tujuan utama ekspor RI. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jumat (4/4/2025) menyebutkan bahwa ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada Angka total ekspor Indonesia ke AS pada Januari-Februari 2025 tercatat US$ 4,677 miliar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
