– Dukungan biaya sekolah dan kebutuhan pendidikan
– Pendampingan moral dan dukungan psikologis
– Bantuan kebutuhan dasar sehari-hari
– Pembukaan akses terhadap peluang kerja dan masa depan
“Bayangkan jika satu keluarga di Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi mengangkat satu anak dari NTT — berapa ribu masa depan yang bisa kita selamatkan bersama,” ujarnya dengan penuh harapan.
Menurut Erles, persoalan utama di NTT bukan terletak pada kemampuan anak-anak daerah tersebut, melainkan pada kesempatan yang belum merata. Ia menyebutkan masih banyak anak-anak di pelosok NTT yang harus berjalan jauh hingga puluhan kilometer untuk bersekolah, menghadapi kekurangan gizi kronis, bahkan terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kita sering membicarakan visi Indonesia Emas 2045, tetapi bagaimana mungkin kita mencapainya jika anak-anak di NTT masih tertinggal jauh dari akses layanan dasar yang menjadi hak mereka?” tandasnya.
Ajakan ini semakin menguat setelah muncul kabar memilukan dari Kabupaten Ngada, NTT, di mana seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia dalam situasi yang diduga berkaitan erat dengan tekanan hidup dan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Anak tersebut diketahui hidup bersama neneknya dalam kondisi sangat sederhana di sebuah pondok kecil di tengah kebun terpencil.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
