Oleh: Martin Khisna
Jakarta – Demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, dan memperjuangkan kepentingannya. Namun, kebebasan tersebut tidak seharusnya dimaknai sebagai dorongan untuk selalu bereaksi terhadap setiap persoalan tanpa terlebih dahulu memahami duduk perkaranya. Demokrasi yang sehat justru membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir jernih, menimbang informasi, dan menentukan sikap berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah derasnya arus informasi dan semakin cepatnya pembentukan opini di ruang digital, tantangan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi muda. Berbagai isu politik, ekonomi, dan kebijakan publik dapat berkembang menjadi perdebatan luas hanya dalam waktu singkat. Sayangnya, popularitas suatu narasi tidak selalu mencerminkan ketepatan informasi atau kedalaman pemahaman terhadap persoalan yang dibahas.
Kondisi ini menuntut pemuda untuk tidak sekadar menjadi bagian dari arus percakapan publik, tetapi juga berperan sebagai penalar yang kritis. Sebelum menyimpulkan bahwa suatu kebijakan gagal, misalnya, perlu dipahami terlebih dahulu tujuan kebijakan, mekanisme pelaksanaan, indikator keberhasilan, serta persoalan konkret yang ditemukan di lapangan. Tanpa proses tersebut, penilaian berisiko didasarkan pada persepsi, bukan pemahaman yang utuh.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












