KUPANG, 15 Oktober 2026 — Di sebuah ruangan di Aula Pascasarjana Universitas Nusa Cendana, puluhan inseminator dari pelosok Kabupaten Kupang menyimak dengan saksama. Di depan mereka, Prof. Dr. Ir. Wilmientje Marlene Nalley, M.S., Guru Besar Bioteknologi Peternakan dan Ilmu Reproduksi Ternak, memegang sebuah straw berisi semen beku sapi. “Kesalahan kecil dalam menangani straw ini bisa berarti kegagalan total,” tegasnya. Kalimat itu menjadi pembuka yang menggetarkan dalam Pelatihan Inseminasi Buatan (IB) Ternak Sapi yang digelar Dinas Peternakan Kabupaten Kupang bekerja sama dengan Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Undana, Kamis (15/10/2026).
Di balik dinginnya nitrogen cair bersuhu -196°C yang menjaga jutaan spermatozoa tetap hidup, tersimpan ancaman yang tak terlihat. Prof. Marlene, yang dikukuhkan sebagai guru besar pada 2021 bersama Prof. Lince Mukkun dalam sejarah pertama kali dua srikandi Undana dikukuhkan bersamaan, menjelaskan bahwa rantai penanganan yang panjang dari balai inseminasi buatan, depo kabupaten, hingga tangan inseminator di lapangan adalah titik-titik rawan yang bisa mematikan kualitas semen beku.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






