Oleh : Honing Alvianto Bana
Timor Tengah Selatan (TTS) adalah tanah batu dan angin kering, tempat manusia belajar sabar, teguh, dan setia pada leluhur. Namun di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang kehilangan jati diri sebagai orang Timor?
Di permukaan, identitas Timor masih terlihat. Tenun ikat tetap dikenakan dalam acara resmi, rumah bulat masih berdiri di banyak desa, dan nama leluhur masih disebut dalam doa adat. Namun, simbol-simbol ini sering berhenti pada seremoni, bukan lagi ruang hidup sehari-hari.
Di kalangan muda, bahasa Uab Meto kian jarang dipakai, digantikan bahasa Indonesia dan dialek media sosial. Ritual adat kian jarang dilakukan, sebagian dianggap kuno atau terlalu mahal. Kearifan ekologis seperti pola tanam tradisional atau pengelolaan air mulai tergeser oleh pola pertanian cepat yang sering tidak ramah lingkungan.
Pertanyaannya semakin mendesak ketika kita melihat data. Jumlah penduduk TTS pada 2024 mencapai sekitar 478 ribu jiwa, dengan 23,4% masih anak-anak dan 12,6% berusia lanjut. Artinya, lebih dari separuh penduduk kita berada dalam usia produktif, sebuah bonus demografi yang bisa menjadi kekuatan. Namun, potensi ini terancam oleh tantangan sosial-ekonomi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












