Opini  

Apakah Orang TTS Kehilangan Jati Diri?

Avatar photo
Reporter : Honing Alvianto Bana Editor: Redaksi
IMG 20250818 WA0034

Oleh : Honing Alvianto Bana

Timor Tengah Selatan (TTS) adalah tanah batu dan angin kering, tempat manusia belajar sabar, teguh, dan setia pada leluhur. Namun di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang kehilangan jati diri sebagai orang Timor?

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di permukaan, identitas Timor masih terlihat. Tenun ikat tetap dikenakan dalam acara resmi, rumah bulat masih berdiri di banyak desa, dan nama leluhur masih disebut dalam doa adat. Namun, simbol-simbol ini sering berhenti pada seremoni, bukan lagi ruang hidup sehari-hari.

Di kalangan muda, bahasa Uab Meto kian jarang dipakai, digantikan bahasa Indonesia dan dialek media sosial. Ritual adat kian jarang dilakukan, sebagian dianggap kuno atau terlalu mahal. Kearifan ekologis seperti pola tanam tradisional atau pengelolaan air mulai tergeser oleh pola pertanian cepat yang sering tidak ramah lingkungan.

Pertanyaannya semakin mendesak ketika kita melihat data. Jumlah penduduk TTS pada 2024 mencapai sekitar 478 ribu jiwa, dengan 23,4% masih anak-anak dan 12,6% berusia lanjut. Artinya, lebih dari separuh penduduk kita berada dalam usia produktif, sebuah bonus demografi yang bisa menjadi kekuatan. Namun, potensi ini terancam oleh tantangan sosial-ekonomi.