Diksi di Antara Jejak Ternak: Kisah Marno, Anak Amarasi yang Menembus Takhta Duta Bahasa NTT

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260418 WA0066

KUPANG – Aroma pakan ternak dan hiruk-pikuk laboratorium anatomi seketika luruh, berganti riuh tepuk tangan di sebuah panggung megah. Marno, pemuda sederhana asal Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, baru saja mengukir sejarah pribadi yang tak biasa. Mahasiswa Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) ini berhasil menyabet gelar Terbaik 3 Putra Duta Bahasa Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026, membuktikan bahwa kecerdasan literasi tak melulu soal latar belakang program studi.

Keberhasilan ini menjadi tamparan halus bagi stigma lama yang menyebut mahasiswa jurusan eksakta cenderung kaku dan minim retorika. Di tangan Marno, insting seorang “anak kandang” yang terbiasa bekerja keras berpadu manis dengan kemampuannya merangkai diksi. Ia tak hanya mampu membedah anatomi ternak, tetapi juga piawai membedah struktur bahasa dan diplomasi kebudayaan, menyisihkan ratusan peserta lain dari berbagai disiplin ilmu.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Namun, kemampuan bicara Marno tidak lahir dari ruang hampa. Di balik jas almamaternya, ia adalah seorang organisatoris ulung yang menjabat sebagai Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FPKP Undana sekaligus memegang amanah nasional sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI. Keluwesannya dalam bertutur kata justru terasah di lapangan, terutama saat ia terjun langsung bersama Tim Peduli Kasih untuk menyentuh kehidupan 25.000 jiwa di pelosok Pulau Timor. Baginya, bahasa adalah alat perjuangan kemanusiaan yang paling tulus.