Daerah  

Banyak Rumpun Bambu di Mauponggo Tersapu Banjir, Picu Kelangkaan Bahan Tangga Cengkeh 

Avatar photo
IMG20250911163424
Petani Cengkeh di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Photo dok: FlobamoraNews

“Harus bisa jadi pelajaran, evaluasi total soal kajian lingkungan, kita memang tidak bisa menahan bencana akan tetapi dengan melestarikan lingkungan menjaga alam meminimalisir terjadi bencana seperti ini” ujar salah satu warga Maupunggo.

Bambu dipilih bukan tanpa alasan. Akar serabutnya yang rapat mampu mencengkeram tanah kuat-kuat, menahan longsor, dan mencegah erosi tebing. Kemampuannya menyerap air membuat hujan deras tidak langsung berubah menjadi limpasan yang menghantam pemukiman. Justru, air disimpan dalam tanah lalu dilepaskan perlahan, sehingga sungai tetap mengalir stabil.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bambu dapat menahan laju erosi hingga lebih dari 80% dalam waktu 5 tahun.

“Berdasarkan hasil penelitian setelah penanaman bambu selama 5 tahun, erosi yang semula 4.235 ton per km persegi berkurang sampai 436 ton per km persegi,” ucap peneliti bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Elizabeth A Widjaja.

Dijelaskan Elisabeth, bambu akan bermanfaat jika ditanam di bantaran sungai sebagai penahan erosi. Hal itu dapat memecahkan masalah pada daerah aliran su-ngai (DAS) kritis yang berada di Indonesia. Erosi diketahui menyebabkan pendangkalan dan merusak kemampuan sungai dalam menyerap air yang berdampak pada terjadinya banjir bandang.