“Harga gabah yang kami tawarkan itu melebihi harga Nasional kering panen 6.500, terkait harga kami sudah melakukan penghitungan analisa matang-matang, intinya tidak ada lagi petani yang harus tunggu lama-lama jual beras di pasar Danga” tambahnya lagi.
Selain kekurangan pasokan gabah, tantangan terberat yang dihadapi oleh Bumdes Mako Karya adalah ketersediaan modal usaha yang dinilai masih kurang jika hanya mengandalkan penyertaan modal dari dana desa. Bumdes Mako Karya membutuhkan tambahan modal usaha yang bisa diakses di lembaga keuangan seperti Koperasi dan perbankan.
Yohanes Oktavianus dari Bank Nasional Indonesia (BNI) cabang Mbay didampingi beberapa staff, berkesempatan memantau langsung aktivitas BUMDES Maro Karya, Senin 24 Meter 2025 siang. BNI mengapresiasi langkah inovasi yang dijalankan Pemerintah Desa Maropokot melalui BUMDES karena Desa sudah berpikir dua-tiga langkah lebih maju.
Menurut Dia, pemerintah desa dan semua stakeholder di Nagekeo khususnya bahkan NTT pada umumnya Integrasi pertanian belum dijalankan dengan baik. Padahal di daerah lain seperti di NTB, skema Integrasi kerja sama antara Pemerintah desa, Bumdes dan lembaga keuangan bahkan Oftaker sudah digerakkan secara sistematis.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












