Meski Dekranasda belum begitu masif melaksanakan kegiatan konkret dalam rangka pengembangan serta pelatihan penenun generasi Z, akan tetapi Filomena bersyukur ada lembaga sekolah yang sudah memulai pengembangan keahlian memenun yang masuk melalui kurikulum muatan lokal di sekolah.
“Kita bersyukur karena di SMA Katholik yang ada di Boawae sudah ada ekstrakurikuler untuk tenun” katanya.
Dia juga meminta kelompok tenun di Kabupaten Nagekeo untuk terus berkarya melestarikan kekayaan intelektual ini dengan senantiasa memperhatikan kualitas dan mutu agar bisa bersaing di pasar Nasional maupun Internasional.
“Kepada para penenun agar bisa mengajarkan bagaimana cara menenun yang baik kepada generasi muda dengan memperhatikan kualitas terbaik, sehingga budaya kita itu tetap terjaga dengan kualitas terbaik sehingga menarik minat konsumen” pungkas Filomena. (****)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












