“Pekerjaan ini dikerjakan oleh masyarakat sekitar 32 orang. Pembayaran dibayar secara borongan jadi pemabayaran sampai dengan selesai 27 juta lebih.
Sebelum dilakasanakan ada proses rapat persiapan dengan BPD anggota TPK dan masyarakat dan kita anggota TPK yang mrngawas. Tetapi kita juga hanya diperintah dan mengontrol orang kerja atau tidak. Jadi kalau campuran ketua bilang apa kita yang mengawas harus ikut. Pasir yang digunakan kualitas pasir yang kami lihat tidak sesuai karena ada campur lumpur dan halus”, jelasnya.
Ditanya terkait pasir yang digunakan dan campuran semen dan pasir dijelaskan bahwa pasir yang digunakan tidak sesuai karena halus dan bercampur lumpur sedangkan campuran semennya kurang. Untuk RAP sampai saat ini tidak tahu. Campuran untuk fakta di lapangan semen Satu ember pasir Tujuh ember.
“Pasir yang dugunakan terlalu halus dan bercampur lumpur, nah! Kalau kita campur semen Satu ember dan pasirnya Tujuh ember maka hasiknya tidak kuat karena tanah di sini tanah hitam jadi kalau musim panas retak. Karean campuran semen dan pasir tidak sesuai makanya hasil kerjanya ya tidak kuat. Saluran baru selesai kerja tapi sudah retak pasti mubasir sudah, air mau mengalir ikut mana lagi”, ujarnya kesal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
