Yang menarik, proyek ini tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses. Warga setempat dilibatkan sebagai tenaga kerja harian dalam skema padat karya tunai, dengan total nilai HOK mencapai Rp 27,9 juta. Bagi Riski, hal ini menunjukkan bahwa pembangunan desa bisa sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi lokal.
“Di tengah keterbatasan anggaran, PJ Kepala Desa Faifua mampu menunjukkan bahwa jika ada kemauan dan keberpihakan, maka ada jalan keluar. Ini pelajaran penting bagi pemimpin-pemimpin desa ke depan,” ujar Riski, yang kini menjabat sebagai Kabid Organisasi GMKI Cabang Kupang dan pernah menjadi Ketua BLM FPKP Undana.
Ia pun berharap semangat membangun ini terus dilanjutkan oleh pemimpin desa berikutnya.
“Pemerintahan bisa berganti, tapi semangat membangun dan melayani rakyat tidak boleh berhenti. Desa Faifua sudah memulai langkah baik,” tegasnya.
Kini, masyarakat Dusun Batuidu bisa merasakan langsung manfaat pembangunan: jalan yang lebih baik dan air bersih yang mengalir ke rumah-rumah. Cerita dari Faifua membuktikan bahwa Dana Desa, jika dikelola dengan baik, benar-benar bisa mengubah wajah desa — dari yang tertinggal menjadi lebih maju dan sejahtera.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












