Akibat itu, jalan yang baru selesai 4 bulan sudah rusak berat. Selain itu, lebar jalan yang hanya 1,5 meter juga dinilai tidak sesuai kebutuhan. Warga bahkan telah menghibahkan tanah agar kendaraan roda empat bisa masuk ke kebun, tetapi lebar yang ada membuat mobil tidak bisa lewat – bahkan motor bertemu motor saja sudah sulit. “Paling tidak lebarnya harus 2 meter supaya bermanfaat,” tegasnya.
Yang semakin menimbulkan pertanyaan masyarakat adalah pengelolaan keuangan proyek. Warga mengungkapkan bahwa selama pembangunan rabat beton berlangsung, semua transaksi keuangan dikelola oleh istri Kepala Desa. Hal ini menambah dugaan ketidak transparansi dalam pengelolaan dana.
Kekhawatiran juga disampaikan oleh Anggota Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Spaha, Simon Taneo, dan Kaci Tefbana. Keduanya juga mempertanyakan sisa volume pekerjaan dan meminta agar hal tersebut dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.
Masyarakat berharap pemerintah desa dan pihak terkait dapat memberikan penjelasan transparan, termasuk terkait pengelolaan keuangan yang dilakukan istri Kepala Desa, serta memastikan pembangunan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis agar benar-benar bermanfaat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












