Dalam pernyataannya, para kader IMM tersebut menegaskan bahwa aksi ini merupakan pilihan sadar untuk berdiri di sisi keberpihakan kemanusiaan, meskipun harus berbeda arah dengan sebagian kader dan pimpinan yang memilih jalan aman dan nyaman. Mereka menyebut sikap “menolak tunduk” bukan sebagai bentuk pembangkangan, melainkan sebagai kesetiaan pada nilai dasar gerakan: keberanian, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral.
“Kami hanya enam orang malam ini. Tapi kami percaya, sikap tidak diukur dari jumlah. Ada saatnya diam menjadi bentuk pengkhianatan terhadap nurani. Kami memilih tidak diam,” ungkap salah satu kader IMM Sikka di lokasi aksi.
Kepergian YBR (10) menyisakan duka mendalam, terlebih setelah diketahui bahwa almarhum meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya berisi ungkapan perasaan, permintaan maaf, dan pesan agar sang ibu tidak bersedih. Bagi keenam kader IMM itu, pesan tersebut bukan sekadar catatan pribadi, melainkan cermin rapuhnya ruang aman bagi anak-anak untuk menyampaikan beban batin mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
