“Membaca pesan terakhir seorang anak kepada ibunya seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan bertanya: di mana kita ketika anak-anak merasa sendiri? Di mana negara, sekolah, dan lingkungan ketika mereka tidak tahu harus mengadu ke siapa?” kata salah satu peserta aksi.
Aksi bakar lilin ini tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya, keenam kader IMM Sikka menempatkan peristiwa ini sebagai peristiwa kemanusiaan yang harus direspons dengan kejujuran dan keberanian kolektif. Mereka menilai bahwa sistem pendidikan tidak boleh hanya sibuk mengurus administrasi, capaian, dan target, sementara sisi psikososial peserta didik luput dari perhatian.
Dalam konteks itu, kehadiran mereka di depan Kantor Dinas Pendidikan Sikka memiliki makna simbolik. Bukan sebagai bentuk konfrontasi, melainkan sebagai pengingat moral bahwa lembaga pendidikan memikul tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan berpihak pada kehidupan. “Pendidikan bukan sekadar soal kurikulum dan angka. Ia adalah soal manusia. Soal anak-anak yang harus merasa dilihat, didengar, dan dilindungi,” tegas pernyataan sikap mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
