Enam Kader IMM Sikka Gelar Bakar Lilin dan Doa Bersama atas Wafatnya  YBR (10), agar Anak-anak Tak Lagi Menanggung Sunyi

Reporter : Humas Unimof Editor: Redaksi
IMG 20260205 WA0033

“Membaca pesan terakhir seorang anak kepada ibunya seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan bertanya: di mana kita ketika anak-anak merasa sendiri? Di mana negara, sekolah, dan lingkungan ketika mereka tidak tahu harus mengadu ke siapa?” kata salah satu peserta aksi.

Aksi bakar lilin ini tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya, keenam kader IMM Sikka menempatkan peristiwa ini sebagai peristiwa kemanusiaan yang harus direspons dengan kejujuran dan keberanian kolektif. Mereka menilai bahwa sistem pendidikan tidak boleh hanya sibuk mengurus administrasi, capaian, dan target, sementara sisi psikososial peserta didik luput dari perhatian.

Dalam konteks itu, kehadiran mereka di depan Kantor Dinas Pendidikan Sikka memiliki makna simbolik. Bukan sebagai bentuk konfrontasi, melainkan sebagai pengingat moral bahwa lembaga pendidikan memikul tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan berpihak pada kehidupan. “Pendidikan bukan sekadar soal kurikulum dan angka. Ia adalah soal manusia. Soal anak-anak yang harus merasa dilihat, didengar, dan dilindungi,” tegas pernyataan sikap mereka.

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama Flobamora-News.Com Dengan Unimof. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Unimof.


Exit mobile version