Opini  

Gejolak Timur Tengah: Kebijakan Imigrasi Sebagai Instrumen Resiliensi Ekonomi

Reporter : JMSI Editor: Redaksi
IMG 20260317 WA0374

Kedua, menjaga stabilitas implementasi Preferential Trade Agreement antara Indonesia dan Iran. Perjanjian ini membuka akses perdagangan bagi produk seperti makanan olahan, farmasi, tekstil, dan karet dari Indonesia, serta impor dari Iran seperti minyak, bahan kimia, dan aluminium. Penguatan kebijakan keimigrasian melalui program mobilitas bisnis memungkinkan pelaku usaha Iran berinvestasi di sektor manufaktur Indonesia tanpa hambatan birokrasi yang berlebihan. Hal ini penting, karena konflik geopolitik mendorong Iran untuk mencari mitra ekonomi baru di luar kawasan Barat, sementara Indonesia membutuhkan investasi untuk memperkuat industri domestik.

Pendekatan yang sama juga relevan dalam implementasi ART dengan Amerika Serikat. Mobilitas pelaku usaha, investor, dan eksekutif bisnis akan semakin intensif untuk melakukan negosiasi investasi, inspeksi industri, maupun transfer teknologi. Reformulasi kebijakan keimigrasian melalui percepatan visa bisnis, visa investor, visa talenta, maupun program seperti Second Home Visa dapat mempercepat realisasi investasi sekaligus memperkuat kerja sama perdagangan.

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama Flobamora-News.Com Dengan JMSI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab JMSI.


Exit mobile version