Opini  

Guru Adalah Nabi Yang Berpikir, Mengajar dan Menghibur

Avatar photo
IMG 20190625 WA0047

Di bulan begini, Kota Soe terasa sangat dingin. Angin yang bertiup seperti segerombol bayang yang datang dan menggigit tulang. Ada rasa hampa, jika suasana ini berlalu begitu saja. Saya akhirnya menjadi bagian dari peserta. Mencatat setiap kata dan kalimat sastrawan NTT ini. Di mataku saat ini, Marsel Robot adalah guru yang hadir untuk mengajar dan menghibur. Ia adalah nabi kekinian yang berseru pentingnya membangun budaya literasi di kalangan peserta yang juga adalah guru. Kesimpulan sementara akhirnya didapat. Guru adaah nabi yang berpikir, mengajar dan menghibur.
Kita amini itu. Guru adalah nabi yang ingin menghabiskan hari-hari hidupnya untuk berpikir dan mengajar. Ia (guru) adalah seorang yang mau meluluhkan dirinya seperti lilin untuk membuka cakrawala berpikir generasi muda. Ia datang membawa api yang membakar semangat berjuang dan optimisme para pemilik masa depan NTT di tahun 2050. Guru adalah seorang yang ingin mengerutu dalam aksi dan pelayanan. Selain itu, guru adalah nabi yang menghibur. Ia datang membawa rasa yang tidak biasa. Dari cara ia berpikir dan merasa, generasi muda belajar tentang arti kehidupan yang nyata.
Dr. Marsel Robot kembali berbicara. Kali ini ia hadir sebagai sahabat ketimbang sebagai dosen dan sastrawan NTT. Ia menyampaikan rasa bangga untuk semua peserta yang hadir. Menurut Marsel, kehadiran para kepala sekolah dan guru di hari libur ini adalah “sesuatu”. Mengisi waktu liburan dalam cara yang luar biasa. Meningkatkan profesionalisme dalam hal menulis. Jika kemudian ada mimpi untuk generasi emas itu tercipta, maka ini adalah sinyal awal yang baik. Luar biasa. Harus diakui, akhir-akhir ini, om “Google” telah mencaplok wibawa dan akal sehat guru. Banyak tulisan yang dihasilkan dari rakitan kata yang ada di mesin google. Pikiran guru dinina bobo hingga akhirnya lumpuh. Pendampingan menulis karya ilmiah adalah cara untuk merawat akal sehat dan mengembalikan wibawa guru yang pantas digugu dan ditiru.
“Manusia modern termasuk para guru telah menjadi suku cadang dari “android”. Om “google” telah mencaplok buah pikir manusia dalam kerja mesin yang kaku dan monoton. Ada sebuah pernyakit “ketergantungan”. Perhatikan cara guru atau anak muda menulis status facebooknya. Akh … menyedihkan. Dirinya “ditelanjangi” dari cara ia menuliskan pikirannya di dinding facebook. Padahal harus diakui, otak kita adalah akar serabut seperti halnya tumbuhan. Otak akan berkembang dan bertumbuh sempurna jika selalu disegarkan dengan diberi nutrisi melalui aktifitas membaca dan menulis. Dalam sebuah penelitian kecil, Alkitab adalah satu-satunya buku yang dimiliki guru di rumah. Karena Alkitab adalah yang suci maka jarang dibaca. Cukup melihat, memegang dan berdoa.”, ujar sastrawan NTT ini.
Di akhir materinya, dosen Bahasa & Sastra Indonesia Undana ini menyampaikan terima kasih kepada tim Media Pendidikan Cakrawala NTT. Jiwa-jiwa muda nan enegik punyanya NTT yang selalu resah. Mereka akhirnya memutuskan untuk setia di lorong sepi ini. Mereka (tim formator Cakrawala) siap “meng-opname” hasil tulisan para guru dan meniupkan roh dan wajah baru di dalamnya. Dalam hal ini fungsi tim Cakrawala sebagai formator telah mendapat penyempurnaannya dalam media publikasi yang dimilki yakni majalah pendidikan Cakrawala NTT dan Jurnal Pendidikan Cakrawala NTT. Jalan sepi literasi ini harus menjadi pilihan para guru dan generasi muda NTT. Artinya, cakrawala berpikir guru dan anak-anak NTT dibuka dan diarahkan dalam cara yang tepat. Tim Formator Cakrawala NTT telah menajalankan fungsi itu. Terima kasih.