Puluhan perserta Bimbingan Teknis (Bimtek) penulisan karya ilmiah (PTK/PTS) yang diselenggarakan di SMP Kristen 3, Soe-Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terdiam. Aula kegiatan beraroma ilmiah itu berubah menjadi sunyi. Mereka (perserta bimtek) merenung dalam kata tak bersuara. Ada imajinasi yang sedang berkelana, ke mana dan bagaimana situasi generasi bangsa (daerah ini) di tahun 2050 nanti? Apakah mereka (generasi muda) mampu bercerita tentang dirinya, leluhurnya dan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya? Ataukah semuanya lenyap tanpa cerita dan kenagan? Berada di sini untuk tiga hari terhitung dari tanggal 24-26 Juni untuk mengurai visi besar itu. Menyambut Generasi Emas NTT 2050 Dengan Membangun Budaya Literasi.
Lelaki penulis buku kumpulan artikel “Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah” berbicara lagi. Di hadapan puluhan peserta Bimtek yang terdiri dari para guru dan kepala sekolah SMP itu, Ia (Marsel Robot) berkenalan. Katanya, ia sudah mengalami bagaimana perihnya saat tidak mempunyai kebiasaan membaca dan menulis. Sebelum berada di titik ini sebagai dosen, ia gagal dalam sekian banyak bentuk test (ujian). Segala sesuatu yang dinamai test (ujian), ia pasti gagal total. Ia “bertengkar” dengan dirinya sebelum jalan pertobatan itu terbuka. Baginya, menulis dan membaca itu adalah dua hal yang saling mengandaikan. Menulis itu bakal sulit seperti mengali sumur dengan jarum jika jarang (kurang) membaca.
“Menulis itu memang sulit. Untuk konteks NTT dimana masyarakatnya (termasuk guru) bisa membaca tetapi tidak biasa membaca, menulis itu seperti kegiatan menggali sumur dengan menggunakan jarum. Atau unta yang disuruh (dipaksa) masuk lubang jarum. Sulit. Tetapi hasil tidak pernah mengkhianati proses. Tidak ada cara lain yang lebih cerdas dan bijaksana jika ingin menulis adalah dengan banyak membaca dan mulai tulis. Keajaban selalu terjadi untuk orang yang mau memulai dan berusaha. Jangan tanya mengapa kemudian orang menjadi professional dalam hal menulis seperti tim Media Pendidikan Cakrawala NTT, jawaban hanya satu. Mereka (tim Cakrawala) telah mulai dan setia pada lorong sepi literasi ini. Membaca dan menulis adalah pekerjaaan merawat akal sehat dan proses mendidik jari. Benar. Jari kita perlu didik agar tidak kaku, gagap dan menjadi “harimau” untuk diri sendiri”, tandas pimpinan umum Tabloid Suara Tabor ini.
Menurut Marsel, menulis itu adalah seorang yang sedang jatuh cinta. Ia mengambil jarak dan keluar dari dirinya. Ia menulis. Mencari kata yang tepat, menyusunnya dalam kalimat hingga pesan itu tercipta. Awalnya ia nampak resah dan gelisah. Apakah deretan kalimat ini mampu menggetarkan jiwa seseorang yang sangat dicintainya? Kesuksesan usaha mendapatkan cinta ditentukan oleh seberapa kuat dan bernas kata dan kalimat yang ditulis. Ia membaca lagi tulisannya di beberapa jam yang lalu. Ia kaget. Menghapusnya segera dan mulai menulis lagi. Begitulah seterunya. Menulis dan mencoretnya lagi hingga keresahan itu pergi dan hilang. Ia ke dapur, ingin merayakan hasil karyanya ini dalam secangkir kopi panas. Meneguknya perlahan sambil memandang surat yang sudah terbukus dalam amplop putih.
Lelah, perih tetapi selalu berakhir mengagumkan. Dalam tulisan ia sungguh melihat dirinya secara utuh. Ada rasa bangga ketika ia menatap perasaan dan pikirannya sendiri. Terpesona karena ia berhasil membingkai dirinya dalam posisi lain. Dalam kekuatan terisa, akhirnya ia berhsil mengirim surat cinta itu. Keajaiban terjadi. Orang yang sangat dicintainya itu mendatanginya dalam mimpi dan sadar. Hati mereka berpaut dalam kata sehidup semati dari kata dan kalimat yang dirakitnya di beberapa bulan lalu. Mereka saling mencintai dalam kata, suara dan sikap.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












