4. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia . Dana pendidikan tidak boleh terbuang. Program vokasi dan pelatihan kerja harus diarahkan pada sektor potensial seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan kerajinan.
5. Akuntabilitas dan transparansi. Setiap rupiah anggaran harus diawasi secara terbuka, dengan audit independen dan partisipasi masyarakat.
Penutup
Kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur adalah cermin dari persoalan manajemen pembangunan yang belum efektif. Banyak program yang “ada” tapi tidak “mengena”. Selama administrasi publik masih terjebak pada pola karitatif dan seremonial, angka 19 persen akan sulit diturunkan.
Nusa Tenggara Timur membutuhkan kepemimpinan daerah yang berani melakukan terobosan, birokrasi yang adaptif, dan masyarakat yang dilibatkan dalam setiap tahap pembangunan.
Dengan strategi yang lebih cerdas dan konsisten, kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur bisa benar-benar menjadi bagian dari masa lalu, bukan masa depan.
Sekilas tentang penulis
Ricky Ekaputra Foeh adalah akademisi sekaligus praktisi di bidang Ilmu Administrasi Bisnis. Saat ini beliau mengajar di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, FISIP Undana, dengan fokus pada pengembangan SDM, manajemen strategis, kewirausahaan, serta inovasi bisnis digital.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
