Opini  

Kemiskinan Ekstrem di NTT: Mengapa 19 Persen Sulit Diturunkan?

Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

4. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia . Dana pendidikan tidak boleh terbuang. Program vokasi dan pelatihan kerja harus diarahkan pada sektor potensial seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan kerajinan.

5. Akuntabilitas dan transparansi. Setiap rupiah anggaran harus diawasi secara terbuka, dengan audit independen dan partisipasi masyarakat.

Penutup

Kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur adalah cermin dari persoalan manajemen pembangunan yang belum efektif. Banyak program yang “ada” tapi tidak “mengena”. Selama administrasi publik masih terjebak pada pola karitatif dan seremonial, angka 19 persen akan sulit diturunkan.

Nusa Tenggara Timur membutuhkan kepemimpinan daerah yang berani melakukan terobosan, birokrasi yang adaptif, dan masyarakat yang dilibatkan dalam setiap tahap pembangunan.

Dengan strategi yang lebih cerdas dan konsisten, kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur bisa benar-benar menjadi bagian dari masa lalu, bukan masa depan.

Sekilas tentang penulis

Ricky Ekaputra Foeh adalah akademisi sekaligus praktisi di bidang Ilmu Administrasi Bisnis. Saat ini beliau mengajar di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, FISIP Undana, dengan fokus pada pengembangan SDM, manajemen strategis, kewirausahaan, serta inovasi bisnis digital.



Exit mobile version